Langsung ke konten utama

Beberapa Cinta dan Nafsu


Pak Pedu memiliki Istri yang terkenal cantik dikampungnya, istrinya ini bernama Pevita. Hidup mereka mapan dan dikarunia tiga orang putra. Yang pertama duduk dibangku SMP, yang kedua dan ke tiga duduk dibangku SD.
Disisi lain ada Pak Pulan yang statusnya sebagai tetangga terdekatnya jatuh hati pada si Pevita. Padahal Pak Pulan ini sudah memiliki Istri dan anak, bahkan beberapa anak perempuannya sudah menikah dan memiliki anak. Pevita pun juga jatuh hati pada Pak Pulan. Singkat cerita Pevita dan Pak Pulan ini menikah dan meninggalkan kampung, meninggalkan Istri juga meninggalkan suami. Tanpa ada cerai dari suami juga tanpa tanda bukti cerai dari istri. Mereka menghilang begitu saja bagai ditelan bumi.
Istri Pak pulan sekarang janda, begitu juga suami Pevita sekarang menyandang duda.
Bagaimana anak-anak mereka?
Anak dari Pak Pedu dan Pevita sekarang ikut Pak Pedu. Dan anak dari Pak Pulan dan Istrinya sekarang ikut bersama Istrinya pak Pulan.

***

Sungguh ironis jika kisah diatas, memang benar adanya cerita itu.
-Dampaknya sangat luar biasa buat anak-anak mereka. Anak yang pertama dari Pak Pulan yang sudah menikah dibawa kabur oleh laki-laki lain, padahal sudah memiliki satu orang anak.
-Anak kedua hamil diluar nikah
-sedangkan Istri masih saja menjanda.
Anak dari Pedu dan Pevita, mereka lebih baik dan bisa berfikir lebih matang. Walau aku gak tau tentang nyatanya. Aku hanya melihat baik-baik saja.

+++puisi ini—
kenapa Nafsu ini begitu besar?
Hingga membutakan mata hati
Menerjang membabi buta
seperti tak ada aturan
Nafsu….
Mau mu begitu bernafsu
jika aku turuti serasa terbang
Melayang kepayang.
Nafsu aku benci nafasmu
Aku jadi hina menurutimu

http://muda.kompasiana.com/2012/11/15/beberapa-cinta-dan-nafsu-509148.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lukisan Karya Affandi

Karya Lukisan sang Maestro Afandi yang berjudul "Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan" merupakan salah satu karya langka dan istimewa dari Afandi, diantara Karya-karya istimewa lainya, namun Lukisan ini memiliki nilai falsafah hidup yang dalam, dimana setiap individu Manusia yang ada di Dunia ini terlahir sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lainya seperti Malaikat, Jin, Hewan, Dll. Dimana kesempurnaan Manusia itu sendiri adalah terwujud karena adanya kelemahan terbesar yang dimiliki Manusia yaitu hawa nafsu yang cenderung berbuat untuk mengingkari kodrat sebagai makhluk yang sempurna, dan seringkali hawa nafsu digoda oleh berbagai bisikan-bisikan setan yang menyesatkan. Disini perwujudan dari bisikan-bisikan setan itu dilukiskan Afandi seperti sesosok Topeng-topeng yang berperan sebagai tokoh kejahatan dalam cerita-cerita Jawa.  Dan Topeng itu sendiri cenderung bukan wajah asli dari diri Manusia...

Biografi Sunan Kalijaga

Joko Said dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya. Pembangkangan Joko Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang. Karena tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko Said untuk me...

Biografi Sunan Kudus

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali --yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus....