Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 17, 2013

perjalanan

“Jangan menatapku, apalagi sok perhatian. Aku tak butuh semua itu. Aku bisa mengurusi hidupku sendiri, urusi saja urusanmu!!!” *** Di dapur yang berantakan, panci masih bersila diatas tungku berkerudung abu. Piring dan sendok sisa makan tadi sore masih menggunung di pojokan kamar cuci. Pria berbaju lusuh duduk didepan tungku yang masih menyala tak begitu membara. Matanya melihat kesana kemari menatap setiap yang tertatap. Hanya menatap dan sesekali menghisap rokok yang ada disela jemarinya, segelas kopi hitam pun bersanding menemaninya. Tak seberapa lama datang gadis gadis dengan bulu-bulu halusnya berwarna hitam dan di ujung telinganya yang meruncing berwarna putih bersih, muncul dari balik pintu yang memang tak terkunci. Bahkan seandainya jika ada yang berniat jahat sama rumah dengan sangat mudah mengobrak-abrik isi rumah. Sebab pintunya memang tak terkunci. Apakah pintu juga perlu kunci? sepertinya semua pintu memang perlu kunci. Tapi entah kenapa pintu ini tak berkunci. “

Bersila Mengunyah Puisi

Aku menanam puisi kusemai dengan hati Ku taburkan pupuk imaji Puisiku selalu berganti  Tiap musim setiap hari Kadang suka Kadang duka Dan terkadang bukan suka ataupun duka Puisiku ini tergantung suasana hati Tak bisa dipaksa, tak bisa di reda Puisiku tak ada yang beli pernah ku tawarkan kesana kemari "Ah, puisimu basi!" "Waduh, aku tak mengerti puisi!" "Untuk beli nasi saja susah apalagi beli puisi." TIDAK!!! Itulah seklumit jawabannya Namun, aku tak berkecil hati puisiku ini aku kunyah sendiri Bersama kekasih hati Yang dengan santun menikmati.